Aku selalu begitu tertarik dengan senja, karena selalu ada cerita tentangmu di kala itu, menjadi kenangan tak terlupakan, senyummu menggantikan hangatnya matahari yang terbenam, semenjak itu aku tak dapat melupakan rasa itu, hingga senja ke senja
Mungkinkah Hanya Mimpi (Cerpenku)
11.45 |
Ditulis 9 Juni 2011
Pagi itu aku berjalan bersamanya. Melewati pematang sawah, di kelilingi petak-petak sawah yang berisi tumbuhan padi yang padat yang sudah siapa panen. Aku tak sanggup menatap indah wajahnya, yang indah oleh senyum khasnya, juga lesung pipinya yang keliatan menambah keindahan itu. “oh, indah betul ciptaanmu Tuhan”, seruku dalam hati.
Namanya adalah Siti Humairah, perempuan yang selama ini selalu menjadi dambaan hatiku. “Ya… Humairah!”, sapaku. “Aku khendak melamarmu, apakah engkau mau menerimaku!” tanyaku dengan sungguh-sungguh. Lama ia termenung atas perntayaank. Namu tak lama kemudian mulai terucap kata darinya. Bibir manisnya mulai mengeluarkan kata-kata. Namun sayangnya, kata-kata itu bukan pelipur lara atau penyenang hati. Malah menjadi penyayat hatiku. Seolah-olah tak ada nilai diri ini di dunia ini lagi. “maafkan aku karena saat ini, aku tak dapat menerima lamaranmu. Aku tidak mencintaimu, aku mencintai orang lain” jawab siti. “baiklah, jika itu telah menjadi pilihan hidupmu maka aku ikhlas. Mungkin Tuhan menghendaki yang lain dari keinginanku ini. Tapi bagiku, rasa cinta ini tak akan pernah pudar karena ia akan selalu terwujud dalam usaha untuk membahagiakanmu sebagai orang yang kusayangi”, jawabku balik.
Tak lama kemudian, aku meninggalkannya sendiri di pematang sawah itu. Kuterus berlari kea rah matahari terbit. Seolah aku khendak menggapainya dan berteriak sekeras-kerasnya kepadanya. Seolah ingin melampiaskannya pada rasa siang. Aku terus berlari dan berlari hingga tak terasa aku sampai ke jalan raya. Dan tidak lama kemudian terdengar suara “pip…pip…” suara klakson sebuah truk pengangkut barang hasil pertanian. Tidak lama kemudian menabrakku. Dan darah segar mulai keluar dari hidungku. Hingga akhirnya tiba-tiba. “nak..nak.. bangun!” terdengar suara Ibu khendak membangunkanku. Perlahan-lahan kubuka mataku dan kutatap senyum indahnya. “uh… ternyata aku hanya bermimpi”, seruku.” Alhamdulillah bukan kenyataaan”, tambahku. “Apa maksud dari mimpiku itu?” tanyaku. Apakah mungkin aku akan bertemu sosoknya itu, ataukah itu hanya bunga tidur, ataukah pertanda agar aku selalu berhati-hati dalam berbuat. Mungkin saja
Aku Manusia
10.52 |
Kampoengku, 27 Agustus 2011
Kicauan burung pipit terdengar indah
Membentuk alunan nada alam
Menyejukkan hati, mendatangkan kedamaian
Kudengarkan dengan hati, menusuk hingga ke partikel-partikel hatiku
Menyejukkan rasa, menghilangkan penat, menjauhkanku dari kekeliruan rasa
Tatapku pada ilalang hijau, seakan ia menyapaku dengan lambaiannya
Lepaskan semuanya, dunia ini milikNya
Jangan pernah takut akan hatimu yang selalu keliru
CahayaNya yang menunjukkan jalan baginya
Tak pernah ia tidur melihatmu, karena Ia cinta terhadapmu
Seakan ilalang dan burung pipit itu pesan Tuhan terhadapku
Ia tak pernah kulihat, namun menampakkan diri melalui kuasaNya
Ia begitu menyayangi dan tak pernah mengenal kata menyalahkan
Ia hanya mengenal kata memaafkan karena cintaNya terhadapku
Aku manusia
10.51 |
Ada sesuatu yg hadir dalam senyummu yang membuatku tak berkutik
Rasa yang lebih dri yg prnah hadir walau bagai bayangan dlm hidupku
Entah apa namanya, tp itu membuatku bahagia
Tak peduli dalam sebuah ruang relasi apa namanya
Rasa yang lebih dri yg prnah hadir walau bagai bayangan dlm hidupku
Entah apa namanya, tp itu membuatku bahagia
Tak peduli dalam sebuah ruang relasi apa namanya
10.49 |
Angin mengalir melalui ruang hampa
Menusuk masuk dlm rongga-rongga makhluk
Indah wujudmu tak terlupa oleh imajiku
Bagai angin mengalir bebas
Bayangmu demikian indah untuk dilupakan
Olehku yang hanya dpt mngharapmu
Menusuk masuk dlm rongga-rongga makhluk
Indah wujudmu tak terlupa oleh imajiku
Bagai angin mengalir bebas
Bayangmu demikian indah untuk dilupakan
Olehku yang hanya dpt mngharapmu
10.48 |
kampoengku, 26 Agustus 2011
Fajar telah menyingsing
Kabut telat berlalu
Anak-anak kecil berlarian di surau mesjid
Menatap hari depan yang lebih cerah
Membuat masa depan yang lebih baik
Dengan merangkai masa kini penuh makna
Fajar telah menyingsing
Kabut telat berlalu
Anak-anak kecil berlarian di surau mesjid
Menatap hari depan yang lebih cerah
Membuat masa depan yang lebih baik
Dengan merangkai masa kini penuh makna
Aku (Sebuah Puisi Untukmu)
14.17 |
Engkau hadir diantar oleh angin, hadir tepat di hadapanku, digoreskan oleh takdir.
Engkau sosok yang menggetarkan jiwa, menghidupkan semangat hidupku
Engkau mampu menghadirkan senyum di wajahku, menenangkan emosiku
Engkau sosok itu, yang selalu aku damba dan mampu menjadi pelita hidupku
Aku memang hanya manusia biasa, tapi aku tulus mencintaimu
Aku memang telah berbuat salah, tapi aku ingin berubah menjadi yang lebih baik
Aku hanya makhluk kecil yang menghuni bumi ini, tapi aku ingin menjadi baik dan bermanfaat bagimu dan orang lain
Aku adalah makhluk Tuhan, Tuhan yang Maha Kuasa, raja diraja, maka aku menyerahkan semua pada-Nya
Aku mengenalnya sebagai Maha Penyayang dan Pemaaf, maka aku hanya hamba yang khendak belajar dan mempraktekkan bagaimana menyayangi dan memaafkan sesama manusia dan makhluk lainnya.
Aku hanyalah manusia biasa, tapi aku punya Tauhid yang ingin kujaga dan tak akan pernah kugadaikan demi apapun
Langganan:
Postingan (Atom)





